Kerikil Neraka di Ruang Terbuka

Kerikil Neraka di Ruang Terbuka - Rutinitas biasa yang kulakukan sebagai anak kos yaitu berbelanja untuk kebutuhan bulanan, hari ini saya memutuskan untuk berbelanja di supermarket di perempatan Kaliurang, supermarket yang identik dengan ‘harganya yang bersahabat dengan mahasiswa’.

Kuputuskan untuk membeli beberapa buah jeruk, ketika sedang asik memilih buah jeruk yang akan saya beli datanglah seorang lelaki bersama dengan seorang teman wanita yang juga akan membeli jeruk, lelaki tersebut membuka percakapan

“jika jeruk yang ada di keranjang ini kita makan, halal atau haram ya?”
Teman wanitanya menjawab “ya halal dong, kan kita mau beli?”
Dengan spontan saya menjawab “ya haram dong mas!”
Mereka tersentak dan serentak menatap saya,
“tapi kita kan mau beli mbak” ujar lelaki itu,
“tapi jeruk yang mas makan tidak ikut di timbangkan dengan jeruk yang mas bayar, itu artinya haram, kan mencuri” argumenku.
“Benar juga ya” ujar lelaki itu dengan wajah sedang berfikir mencerna argumentasi-ku.
Sebenarnya sudah lama saya memperhatikan kejadian ini, ada banyak konsumen yang

“Mencicipi” buah-buahan di supermarket, ada maupun tidak ada Pengumuman “DILARANG MENCOBA”.

Bahkan ada saja orang yang dengan bangganya mengatakan “ngapain beli, mendingan cicipin aja di supermarket sampai kenyang, trus pulang,,,,”
Entah mereka sadar atau tidak bahwa yang mereka masukkan ke dalam tubuh mereka dengan cara yang salah bisa jadi adalah kerikil neraka.

Ketika Ale adik sepupu saya berlibur di Jogja, di kala itu Ale baru naik kekelas 4 SD, saya mengajaknya ke salah satu supermarket, Ale memutuskan untuk membeli buah jeruk, sambil membantu Ale memilih jeruk, hati saya tergelitik untuk mencari tahu sejauh apa pengetahuan Ale tentang halal dan haram.

Di rak jeruk itu hanya ada saya, Ale dan seorang ibu muda.
Saya pun mulai melontarkan pertanyaan “De, kalau kita makan jeruk yang ada di keranjang ini, halal atau haram????”

Ale tampak terkejut, Ibu muda itu juga tampak tertarik dengan pertanyaan yang ku ucapkan, tak lama kemudian raut wajah Ale berubah serius berfikir,
Tak butuh waktu lama dengan raut setengah ragu setengah yakin dengan jawabannya Ale pun berkata dengan tegas “Haram!”

“kenapa haram??” cecarku
“kita kan belum bayar Ka,,”
“tapi kan kita pasti beli De?”
“yang kita makan kan belum kita bayar Ka’, ya haram dong” Bela Ale.

Hati ini terharu, mata ini pun nyaris berkaca-kaca mendengar jawaban Ale, Alhamdulillah di usianya yang masih belia Ale bisa membedakan perkara haram yang dianggap ‘biasa’ untuk sebagian kalangan.

“mba, ade’nya sekolah di Pesantren ya?” tanya ibu muda yang bersama kami memilih jeruk.

“dia ade sepupu saya Bu, sekolahnya di sekolah biasa, bukan di Pesantren” jawabku dengan tersenyum.

Allah SWT berfirman dalam Al Qur’an Surah Ali Imran 104 :

وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung”

Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‘Barang siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran,
hendaklah dia merubahnya dengan tangannya.
Apabila tidak mampu maka hendaknya dengan lisannya.
Dan apabila tidak mampu lagi maka dengan hatinya,
Sesungguhnya itulah selemah-lemah iman.’.” (HR. Muslim)

Mengubah kemungkaran bukan perkara mudah, selain ilmu, juga dibutuhkan segudang keberanian dan banyak latihan, belum lagi godaan syaitan yang mengatakan ‘emang kelakuanmu udah bener, berani-beraninya mau menegur orang lain berbuat buruk’, sejuta cara syaitan gunakan agar kita mengurungkan niat untuk berbuat baik, sebenarnya mengingatkan sesama bukan karena diri ini merasa suci ataupun semua tindak tanduk diri ini selalu benar, tetapi sebagai seorang muslim kita berkewajiban untuk mengikuti sunnah Rasullullah, walau takkan pernah sempurna usaha diri ini untuk mengikuti sunnah Rasullullah, minimal selalu belajar, berusaha serta melatih diri untuk berani bertindak benar.ar.ar.r.

Salah satu pengalaman yang mendebarkan ketika saya berusaha mengingatkan orang lain atas sebuah kemungkaran, ketika saya berada di salah satu supermarket di Samarinda, hari itu saya akan membeli buah lengkeng, di sekeliling keranjang lengkeng ada tiga orang ibu yang sedang ngerumpi sambil ‘mengunyah’ lengkeng, dua orang diantaranya berjilbab.

Mengumpulkan segenap keberanian dan jantung yang berdetak lebih cepat kudekati keranjang itu, kulemparkan sebuah senyuman untuk mereka bertiga, ibu yang paling lahap ‘memakan’ lengkeng membalas senyumanku sembari tetap mendengarkan cerita temannya dengan sedikit melamun. Sembari memilih lengkeng saya mengatakan “Ibu, lengkengnya jangan dimakan, kan haram”, ibu itu hanya tersenyum dan tidak mengindahkan kalimat yang saya lontarkan.

Ya Allah, engkau telah menjadi saksi atas usahaku untuk mengingatkan saudariku.

Sumber : dakwatuna.com

banner
Previous Post
Next Post

3 comments:

  1. Terima Kasih atas ilmunya. saya juga pernah sih.

    ReplyDelete
  2. iy ya menyicipi tanpa ijin si pedagang jadi kebiasaan yang tanpa sadar kita lakukan...
    masyaALLAH...
    jazakumullahkhair

    ReplyDelete
  3. Alhamdulillah ada yang tulis cicip-cicip haram.

    ReplyDelete