Hati yang Gelisah

Dosa-dosa hanya akan membuat hati gelisah dan merasa sedih. Kegelisahan dan kesedihan ini terkumpul menjadi satu dalam hati, sesaat setelah melakukan dosa dan kesalahan. Mereka adalah orang yang hatinya dipenuhi keimanan. Mereka tidak akan pernah merasakan kelezatan dan kebahagian dengan sempurna selamanya dalam perbuatan maksiat. Saat melakukan maksiat, secara spontan kegelisahan memenuhi hatinya.

Akan tetapi, manisnya hawa nafsu terkadang menutupi perasaan ini. Oleh karena itu, siapa saja yang hatinya tidak lagi merasa gelisah ketika berbuat maksiat, maka segeralah mengoreksi kadar keimanannya, dan hendaknya ia meratapi kematian hatinya. Innalilaahi wa inna ilaihi raaji’uun.


Runtuhnya Bangunan

Malik bin Dinar pernah berkata, “Bila hati tidak lagi merasakan sedih dan gelisah, maka ia telah rusak sebagaimana rumah yang runtuh karena tidak lagi dihuni.”

Kesedihan dan kegelisahan bukan saja menjadi standar selamatnya hati. Akan tetapi lebih dari itu, menurut Hasan al-Bashri kesedihan dan kegelisahan merupakan salah satu penyebab masuknya seseirang kedalam surga. Ia berkata, “Seorang mukmin pasti tidak luput dari dosa. Akan tetapi ia akan selalu merasa sedih karena dosa yang ia perbuata, sampai akhirnya ia masuk surga.”

Wahai saudaraku, kamu mengaku sedih dan gelisah di bibir saja, sedangkan perilakumu selalu membohongi lisanmu. Seandainya memang benar di hatimu ada kegelisahan dan kesedihan, tentu pengaruhnya akan terlihat jelas pada kondisi tubuhmu. Akan tampak ratap tangismu karena takut kepada Allah. Akan terlihat amal kebajikanmu untuk menghapus perbuatan-perbuatan burukmu. Akan terlihat pula kedekatanmu dengan orang-orang saleh. Juga akan terlihat bahwa kamu selalu menjauhi orang-orang yang berbuat maksiat. Dan pasti akan tampak tobatmu yang sesungguhnya, penyesalan yang mendalam serta niat baru yang kokoh.


Dr. Khalid Abu Syadi
Seri Penyegaran Iman

Malang, 8 Rabiul Awal 1432 H
Agus Candra Kurniawan
www.agusckurniawan.blogspot.com

banner
Previous Post
Next Post

0 komentar: