Kisah Muazin Mati Wajah Berseri

Kisah Muazin Mati Wajah Berseri - Sungguh indah kematian yang husnul khatimah (akhir yang baik). Seperti yang dialami oleh tukang azan di zaman Rasululloh SAW. Bilal bin rabbah wajahnya berseri dan tersenyum begitu ajal menjemputnya. Subhanallah

Bilal bin rabbah merupakan sang muadzin Rasululloh SAW yang hebat dalam perjuangan akidah. Bilal dilahirkan di daerah sarah kira-kira 34 tahun sebelum hijrahnya Nabi dari Makkah ke Madinah. Bilal tumbuh di Makkah dan ia adalah budak milik anak-anak yatim Bani Abdid Daar dimana ayah mereka mewasiatkan mereka kepada Umayyah bin Khalaf yang merupakan salah seorang pemuka kafir Quraisy.

Begitu muncul sinar agama baru di Makkah, dan Rasululloh SAW mengumandangkan kalimat tauhid. Bilal adalah salah seorang yang paling dahulu masuk agama Islam. Dia telah masuk islam dan pada saat itu tidak ada orang lain yang masuk Islam.

DICINTAI NABI

Bilal merasakan penderitaan akibat masuk Islam. Sang majikannya, Umayyah bin Khalaf terbilangan sadis bila menyiksa Bilal. Ia ikatkan sebuah tali besar di leher Bilal lalu ujung tali yang lain diserahkan kepada anak-anak. Kemudian ia perintahkan anak-anak itu berlari berkeliling sambil menyeret tali itu. Namun bilal teguh iman.

Bilal merasakan penyiksaan di jalan Allaah dan Rasul-Nya. Ia selalu mendendangkan ucapannya yang berbunyi, “Ahad, Ahad, Ahad, Ahad!” Dia tidak pernah bosan mengulanginya, dan tidak pernah berhenti mengucapkannya.

Abu Bakar RA akhirnya membeli Bilal dari Umayyah bin Khalaf

Bilal kemudian ikut hijrah ke Madinah dan menetap di Yastrib. Ia mendedikasikan usianya kepada Nabi. Saat Rasululloh SAW membangun masjidnya di Madinah, dan azan mulai disyari’atkan, maka Bilal adalah orang pertama yang menjadi muazin dalam Islam.

WAJAH BERSERI

Bilal terus menjadi muazin Rasululloh SAW selama hidupnya dan Rasululloh SAW pun mencintai suaranya. Tatkala Rasululloh SAW kembali ke pangkuan Allaah (Wafat, red), saat itu waktu shalat telah tiba. Maka berdirilah Bilal untuk mengumandangkan azan, pada saat bersamaan, saat itu Nabi Muhammad SAW sudah dikafankan namun belum dikubur. Begitu sampai pada kalimat “Asyhadu Anna Muhammadan Rasululloh.....” tiba-tiba Bilal serasa tercekik, dan suaranya tidak keluar dari kerongkongan,

Maka sontak, semua kaum muslimin yang ada pada saat itu menangis, dan mereka semua tenggelam dalam kesedihan.

Sepeninggal Rasululloh sang pengumandang azan ini terus tinggal di Damaskus sehingga menjumpai ajalnya disana. Istrinya setia mendampingi Bilal saat menjelang maut.

“Duh, kasihan,” kata istrinya yang menangis

Bilal masih bisa membuka kedua matanya setiap kali istrinya berkata demikian.
“Alangkah gembirnya,” begitu balas Bilal melepaskan napas terakhirnya sambil melantunkan, “Besok kita akan berjumpa dengan para kekasih, yaitu Muhammaddan para sahabatnya”.

Sang muazin handal itu meninggal dunia dengan husnul khatimah. Wajahnya terlihat berseri dan menebarkan aroma wangi. Wallahua’lam


Admin Islamic Media and Technology Site
banner
Previous Post
Next Post

1 comment: