Saat Bunda Lelah

Saat Bunda Lelah - Putus asa, kupandangi wajah penuh air mata yang tersedu-sedu di pojok kamarku. Sudah setengah jam lebih, dan ia tak jua berhenti menangis. Rupanya teriakanku barusan membuatnya kecewa dan sakit hati hingga ia menangis berkepanjangan. Dan kejadian serupa sudah berulang-ulang terjadi akhir-akhir ini. Hampir seminggu lebih.

Mengapa akhir-akhir ini aku begitu mudah ‘bertanduk’?Gampang emosi hanya karena anak-anakku tak henti membuat gaduh dan memporakporandakan rumahku?Pun mulutku begitu mudahnya mengeluarkan kata-kata kasar bila mereka tak mau menuruti nasehatku, bahkan sesekali tanganku menyakiti tubuh-tubuh mungil itu.

Padahal setumpuk buku-buku parenting habis kubaca. Mendidik Dengan Cinta-nya Irawati, Anak Cerdas-nya Edwards,Kitchen Table Melody-nya Agnes,Chicken Soup For The Parent’s Soul,en seabreg buku lain yang kulahap agar aku bisa mendidik anakku dengan bijak. Mengapa semua yang kubaca tak lagi memberi inspirasi berarti?

“Masalah-masalah yang diakibatkan oleh ulah anak-anak,ternyata hanya menjadi masalah bagi ibu ketika hati ibu sedang emosi. Manakala sedang tak dikejar weaktu, kondisi badan tak capai, dan saat hati ibu sedang senang, maka kerewelan anak akan mudah dihadapi dengan sabar,” papar Irawati Istadi dalam salah satu buku parentingnya.

Mengendalikan emosi. Apakah itu kuncinya?
Lalu, mengapa akhir-akhir ini aku sulit mengendalikan emosiku? Kucoba telusuri hari demi hari yang telah kulewati. Bangun di pagi hari dengan tergesa-gesa. Tak sempat (atau tak menyempatkan diri?) berasyik masyuk dengan-Nya dalam nikmatnya tahajjud, takut anak-anak keburu bangun dan merecoki aktivitas pagiku. Ba’da Shubuh (lagi-lagi) tak menyisihkan sedikit waktu untuk sekedar melantunkan dzikir Ma’tsurat atau selembar mush’af.

Tiba di kantor, disibukkan banyaknya pasien yang antri untuk ditangani, hingga alpa sholat Dhuha. Ketika malam menjelang, kesibukan berkurang, pun anak-anak sudah asyik dalam dunia mimpinya,aku pun ikut terhanyut dalam pelukan malam. Tak ada waktu khusus untuk bermuhasabah atas aktivitasku hari itu, atau sekedar membaca buku, atau bermuraja’ah mengulang hafalan Qur’anku.

Ternyata Stabilitas emosiku berbanding lurus dengan kejernihan nuraniku. Manakala aku lalai memperbaiki diri dengan ibadah harianku, maka aku tak lagi menikmati manisnya ‘bermujahadah’ mengasuh amanah-Nya. Yang ada hanya rasa lelah, jenuh, bahkan frustasi karena mereka tak jua berhenti berulah.



banner
Previous Post
Next Post

5 comments:

  1. inget bunda. hari ini bunda pulang.
    saatnya gue pulang..

    nice blog...

    ReplyDelete
  2. Bunda... ibu.. umi..
    Maafkan dosa-dosa ankmu ini...
    sudah banyak dosa dan kesalahan yang ananda perbuat...
    Yaaahh belajar untuk sabar dan ikhlas emang susah..
    akan tetapi akan lebih susah lagi bila kita tidak pernah belajar sabar dan ikhlas...
    salam dari nana surabaya.

    ReplyDelete