Dari memberi aku belajar. Dakwah itu memberi

Dari memberi aku belajar. Dakwah itu memberi - Dari memberi aku belajar. Dakwah itu memberi.
Itulah tema diskusi kami bertiga pagi itu. Dimulai dari ocehanku tentang amanah yang tak kunjung habis, tentang tenaga yang kadang turun naik, tentang teman2 teman aktivis yang tak jua menyerah. Subhanallah. Pada akhirnya aku sampai pada kesimpulan bahwa ini pun shodaqoh kami.

Ya perjuangan ini adalah shodaqoh kami, infaq kami, yang kami yakini kebenaran janji_Nya atas orang yang bersedekah; 10 kali lipat bagi setiap 1 yang kami ikhlas kan. Subhanallah…..

Sering aku membaca kisah tentang shodaqoh, yang paling membuatku berkesan adalah kisah Ali r.a. yang pontang panting mencarikan fatimah sang istri yang sedang ngidam delima. Di pasar ini tak ada, di pasar situ tak ada di pasar mana-mana tak ada… hingga Ali menemukannya di suatu pasar yang sangat jauh dan itupun Cuma SATU!. Dibawalah pulang delima tersebut dengan membayangkan binar senyum sang istri tercinta. Namun ditengah jalan Ali di cegat oleh seorang pengemis yang meminta buah delimanya yang satu-satunya itu. Akhirnya TANPA PIKIR PANJANG Ali memberikannya kepada pengemis tersebut.

Sesampai dirumah Ali menjelaskan ihwal delima tersebut kepada sang istri, beruntung fatimah adalah wanita yang tinggi izzahnya, sehingga dengan ikhlas seraya mendaratkan egonya ia mengikhlaskan delima tersebut. Hingga beberapa saat setelah itu pintu rumah diketuk. Seorang lelaki dibalik pintu ternyata. Kemudian lelaki tersebut berkata wahai Ali ini adalah milikmu (seraya menyerahkan 9 buah delima), namun Ali ragu, sambil menghitung jumlahnya Ali berkata “bukan ini pasti bukan milikku” namun si lelaki asing tetap ngotot bahwa sembilan delima itu adalah milik Ali, demikian pula Ali tetap bersikukuh tidak mau menerimanya. Hingga si lelaki asing bertanya “apakah yang membuatmu tidak mau menerima pemberian ini?”. Ali menjawab “karena milikku pastilah sepuluh delima” lelaki itu kembali menjawab “ tetapi ini hanya sembilan” Ali menjawab “pasti ada sepuluh”. Akhirnya si lelaki menyerah dan mengambil satu buah delima dari sakunya seraya berkata kepada Ali “kau benar ada sepuluh delima yang seharusnya kau terima, tapi apa yang membuatmu begitu yakin?”. Ali menjawab “karena Allah telah berjanji untuk setiap shodaqoh yang ikhlas akan di balas sepuluh kali lipatnya”………

Subhanallah………..

Saking terkesannya dengan kisah itu, aku pernah mencoba bersedekah 1o ribu rupiah, hmmm pasti balasannya menggiurkan untuk ukuran anak kos seperti aku, 100 ribu gitu loh. Hingga beberapa hari kemudian aku menungu-nunggu….. berbulan….bertahun… tak lagi kuingat, karena kemudian aku mendapat materi liqo, ikhlas itu seperti pergi kebelakang yang tak kau cari lagi setelah kau buang….

Namun baru ku menyadari, Allah Yang Maha baik, Yang Maha tau, yang mana yang paling baik bagiku. Sering ketika berjalan sendirian atau naik motor aku hampir celaka. Dan celakanya, aku baru sadar beberapa waktu lalu, jangan-jangan balasan seratus ribu ku itu adalah dalam bentuk nafas yang masih ku hirup hari ini, bisa jadi sepulang kuliah tadi aku tertabrak dan tak selamat, atau dalam bentuk kemudahan-kemudahan lainnya seperti selalu dapat menyelesaikan tugas, selalu masih bisa makan teratur….

Allah…. Ampuni hamba…. Allah tau kalau memberiku uang 100 ribu aku tak kan tahan dengannya dalam waktu yang lama, maka Ia memberiku dalam bentuk lain, subhanallah…. Kerennya…..

Lain lagi cerita akhwat sebelahku, ia merasa begitu kesulitan dengan kuliah nya tahun ini, selain karena dia transferan dari universitas lain, dia harus bisa adaptasi dengan lingkungan baru dan tugas yang melebihi dosis minum obat sakit tipes.

Akhir-akhir ini dia merasa tak ada pelindung, “tabungan ku sudah habis” katanya. Sepertinya tugas2 yang ia terima begitu susahnya dan menyita waktu. Dulu di kampusnya yang lama dia adalah aktivis yang kemana2 agenda dakwah dibawa, asumsinya dia bershodaqoh dengan amalan2 dakwahnya (pelayanan kepada Allah). Namun ketika masa2 transfer yang sangat menyita waktu, dan akhirnya dia malah sempat vakum dari dakwah beberapa bulan ia merasa tak mempunyai cukup “tabungan” untuk mempermudah urusan2nya…. “dulu tugas ngebut semalam jadi dan nilai pun tak pernah mengecewakan, padahal amanah lagi gila-gilanya ehm, maksudnya lagi numpuk-numpuknya kaya cucian gitu” Akhwat itu meneruskan. Subhanallah ini adalah bentuk lain shodaqoh.

Dan benar saja memang aktivis dakwah selama yang ku tahu, sering sekali mempunyai agenda dakwah yang bentrok dengan akademiknya. Namun selalu saja turun pertolongan,. Dari mulai IJIN UAS UNTUK IKUT MUKTAMAR KELUAR JAWA hingga IJIN PRAKTEK SHOLAT DHUHA UNTUK IKUT DM3!!!, dari semula seperti akan sulit untuk meminta ijin kepada dosen yang bersangkutan, ia dengan segenap kepercayaan diri bahwa siapa yang menolong Allah, Allah akan menolongnya… and she made it!!!!

Aku sendiri selalu berusaha untuk menanamkan dalam hatiku bahwa secapek-capeknya dakwah ini, sesakit-sakitnya perjuangan ini, sejenuh-jenuhnya amal ini, kesemuanya hanyalah kembali kepadaku saja. Bisa jadi kerja kerasku ini adalah tabungan amal kebaikan ku di akhirat nanti, karena Allah tau, betapa banyak amalan buruk yang akan membuatku rugi kelak di akhirat… atau ini untuk meringankan kehidupanku didunia dengan mendapatkan banyak kemudahan yang non materi. Kadang pada suatu perjalanan aku membayangkan, mungkin ketika aku berhenti berdakwah maka selesai pula umurku, selesai pula kesehatanku…. Allah itu Bijaksana sekali yah… subhanallah jadi makin cinta sama Allah… T_T (terharu..).

Ya sudahlah, ku lupakan saja akhirnya shodaqoh 10 ribuku beberapa tahun lalu itu. Kukembalikan pada asalnya, bahwa Allah Yang paling tau mana yang paling baik bagiku, dan aku percaya dari sekian banyak penglihatan tentang hasil dakwah kami di dunia ini –yang kemudian kami namai ‘berhasil’ dan ‘kurang berhasil’ bahkan ‘tidak berhasil’ itu- aku hanya percaya tak ada yang sia-sia meski sebesar tai lalat kutu!!! (emang kutu punya tai lalat??)

…. Hingga akhirnya lantunan doa tak ada putusnya menjadi hiburanku dan kekuatanku.
“ya Muqollibal Quluub, tsabbit qobiy ‘alaa diinik” “ya Allah Yang Maha membolak balik hati, tetapkan hati kami atas agamaMu”…. Aminnnnn.

Sumber : dakwatuna.com

banner
Previous Post
Next Post

9 comments:

  1. Subhaanallah... mengajarkan kita agar ikhlas dalam beramal. Memberi tanpa pamrih dan segera melupakan

    Allaahumma, yaa Muqollibal Quluub, tsabbit qalbi ‘alaa diinik

    Salam ukhuwah

    ReplyDelete
  2. Membaca tulisan di atas, pertama tama, saya menangkap pesan bahwa manusia harus mengakui bahwa dirinya adalah terbatas, sehingga dia tidak akan bisa hidup tanpa bersosialisasi dengan manusia lainnya.

    Kedua, kebaikan pasti akan selalu dibalas dengan kebaikan. Sebagaimana disebutkan di salah satu sabda kanjeng Nabi SAW: "Berilah yang terbaik untuk mendapatkan yang terbaik". Jadi pemberian kita, sekecil apa pun itu, jika itu kita ikhlas dan memberikan yang terbaik, maka Insya Allah akan dibalas oleh Allah SWT.

    Buat Pak Agus Kurniawan, saya terus menunggu tulisan tulisan renungan seperti di atas. Terus terang saya sangat tergugah sekali dengan kisah yang antum tulis.

    Salam

    ReplyDelete
  3. Jazakumullah..
    emang harus seperti itu dalam hidup mas..
    Ikhlas..ikhlas..
    ^_^

    ReplyDelete
  4. yup, kalau aku terkesima ketika membaca manfaat sedekah yang dapat memeperpanjang umur manusia seperti yang dikisahkan nabi ibrahim atas sahabatnya yang hendak menikah.. =)

    ReplyDelete
  5. ane yimak aja gan....dari pada ngomong keliru... maklum bukan ahli dakwah, apa lagi kiay...bukan juga katifis mahasiswa dakwah... yang ada hanya hamba yang penuh dengan dosa...

    ReplyDelete