Memburu Lailatul Qodar

Saudaraku, ketahuilah bahwa “Lailatul Qodar” adalah malam teristimewa dalam bulan Romadhon. Beribadah pada saat itu, lebih baik daripada beribadah seribu bulan di bulan lainnya. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh kebijaksanaan. Berbahagialah hamba-hamba Alloh yang mendapatkan kemudahan untuk meraih keutamaan beribadah di malam itu. Dan merugilah mereka yang melewati malam itu dengan kesibukan-kesibukan yang melalaikan dan mengeraskan hati seperti menghabiskan malam dengan menonton televisi, mengunjungi tempat-tempat perbelanjaan dan hiburan, dan sebagainya.

Saudaraku, tidakkah kita ingin menauladani Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam ? Sungguh, beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam adalah hamba Alloh yang paling takut kepada Alloh Subhaanahu wa Ta’aala dan paling mengetahui bagaimana meraih ridho Alloh dan kecintaan-Nya. Beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam ketika memasuki sepuluh hari terakhir dari bulan Romadhon semakin bersemangat dalam mendekatkan dirinya kepada Alloh I. Beliau pun menyemangati keluarga dan para sahabatnya untuk mengikuti jejak beliau dalam mencari lailatul qodar.

عَنْ عَائِشَةَ - رضى الله عنها - قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ أَحْيَا اللَّيْلَ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ وَجَدَّ وَشَدَّ الْمِئْزَرَ

Dari ‘Aisyah rodhiyallohu ‘anha , dia berkata : “Adalah Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam apabila memasuki sepuluh hari terakhir dari Romadhon, beliau menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya, beliau bersungguh-sungguh dan mengencangkan kain sarungnya.” HSR. Bukhori dan Muslim, dan ini lafazh dalam shohih Muslim

عَنْ عَائِشَةَ - رضى الله عنها - أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - قَالَ تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ


Dari ‘Aisyah rodhiyallohu ‘anha, dia berkata ; bahwasanya Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Carilah lailatul qodar itu pada malam ganjil pada sepuluh hari terakhir dari bulan Romadhon.” HSR. Bukhori

Jika kita termasuk orang yang lemah sehingga tidak mampu menggapai sepuluh hari terakhir di bulan Romadhon, hendaklah tetap berusaha untuk mengejar tujuh malam lainnya. Dari Abdulloh bin ‘Umar rodhiyallohu ‘anhuma , beliau berkata

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « الْتَمِسُوهَا فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ - يَعْنِى لَيْلَةَ الْقَدْرِ - فَإِنْ ضَعُفَ أَحَدُكُمْ أَوْ عَجَزَ فَلاَ يُغْلَبَنَّ عَلَى السَّبْعِ الْبَوَاقِى ».


Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Carilah Lailatul Qodar itu pada sepuluh hari terakhir di bulan Romadhon. Jika salah seorang dari kalian tidak mampu atau merasa lemah maka janganlah ia terkalahkan untuk mencari pada tujuh hari lainnya.” HSR. Muslim

Lalu bagaimana tanda-tanda Lailatul Qodar?
Saudaraku, sungguh Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan kepada umatnya tanda-tanda Lailatul Qodar dalam berbagai sabdanya.

Pertama, ia terdapat pada sepuluh terakhir di bulan Romadhon.

Kedua, ia terdapat pada malam yang ganjil dari sepuluh hari terakhir Romadhon.

Ketiga, Alloh Ta’aala memperlihatkan Lailatul Qodar dengan tanda-tanda alam yang dapat dikenali oleh seorang mu’min yang pernah mendengar sabda Rosululloh ` berikut.

لَيْلَةُ القَدْرِ لَيْلَةٌ سَمْحَةٌ طَلِقَةٌ, لاَ حَارَةٌ وَ لاَ بَارِدَةٌ, تُصْبِحُ الشَّمْسُ صَبِيْحَتُهَا ضَعِيْفَةً حَمْرَاءَ

“Lailatul Qodar merupakan malam yang penuh kelembutan, cerah, tidak panas dan tidak dingin. Matahari di pagi harinya menjadi lemah lagi tampak kemerah-merahan.” ( HR. Ath-Thoyalisi, Ibnu khuzaimah, Al Bazzar dari Ibnu Abbas rodhiyallohu ‘anhuma dengan sanad hasan )

Dari Ubay bin Ka’ab, dia bercerita bahwa Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :

صَبِيحَةَ لَيْلَةِ الْقَدْرِ تَطْلُعُ الشَّمْسُ لاَ شُعَاعَ لَهَا، كَأَنَّهَا طَسْتٌ حَتَّى تَرْتَفِعَ

“Pagi hari setelah lailatul qodar, matahari terbit tanpa sinar, seakan-akan bejana hingga ia meninggi.’ HSR. Ahmad dan Muslim. Dishohihkan Syaikh al-Albani dalam Shohiehul Jaami’ no. 3754

Maka barangsiapa yang mendapati malam itu hendaklah ia bersungguh-sungguh dalam beribadah dan berdoa.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ - رضى الله عنه - عَنِ النَّبِىِّ - صلى الله عليه وسلم - قَالَ « مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Dari Abu Huroiroh rodhiyallohu ‘anhu , dari Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda : “Barangsiapa yang menegakkan sholat ( tarawih ) pada malam Lailatul Qodar karena iman dan mengharap pahala maka akan diampuni dosanya yang telah lalu.” HSR. Bukhori dan Muslim

Beribadahlah dengan apa-apa yang dicontohkan Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam seperti membaca Al –Qur’an, qiyamu romadhon ( sholat tarawih ), banyak bertaubat dan beristighfar, bershodaqoh dan berbagai amalan yang ada dalilnya dari sunnah Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam. Jauhilah berbagai amalan-amalan yang tidak diajarkan beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam semisal do’a dan dzikir berjamaa’ah ( lihat http://ustadzaris.com/sanggahan-untuk-amalan-dzikir-berjamaah; http://www.asysyariah.com/print.php?id_online=157 ), . Pegang teguhlah sunnah Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam. Jauhilah perbuatan bid’ah dalam agama apapun bentuknya. Lakukanlah itu semua karena Alloh Ta’aala dan bukan karena untuk meraih sebutan indah di sisi manusia. Ingatlah keridhoan Alloh Ta’aala dan ganjaran pahala yang disiapkan-Nya itulah tujuan segala amalan kita.

Hudzaifah bin al-Yaman rodhiyallohu ‘anhu berkata :

كُلُّ عِبَادَةٍ لَمْ يَتَعَبَّدْ بِهَا أَصْحَابُ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلم, فَلاَ تَتَعَبَدُوْا بِهَا, فَإِنَّ الْأَوَّلَ لَمْ يَدَعْ لِلْآخِرِ مَقَالاً, فَاتَّقُوْا اللهَ يَا مَعْشَرَ الْقُرَّاءِ خُذُوْا طَرِيْقَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ

“Setiap ibadah yang tidak pernah dilakukan oleh Sahabat Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam sebagai ibadah, maka janganlah kamu lakukan! Karena generasi pertama itu tidak memberikan kesempatan kepada generasi berikutnya untuk berpendapat dalam masalah agama. Bertakwalah kepada Alloh wahai para Qurro ( ahlul Qur’an ) dan ambilah jalan orang-orang sebelum kamu! ( Lihat Ibnu Baththoh dalam al-Ibanah )

Fudhoil ibn Iyadh rohimahulloh mengatakan :

" إن العمل إذا كان خالصا ولم يكن صوابا لم يقبل، وإذا كان صوابا ولم يكن خالصا لم يقبل حتى يكون خالصا صوابا، والخالص ما كان لله، والصواب ما كان على السنة "

“Sesungguhnya amalan jika dilakukan dengan ikhlas tapi tidak benar maka amalan tersebut tidak diterima. Dan jika dilakukan dengan benar tapi tidak ikhlas maka ia pun tidak diterima hingga amalan itu dilakukan dengan ikhlas dan benar. Ikhlash apa yang dilakukan karena Alloh dan benar itu adalah amalan tersebut sesuai sunnah Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam. Kitab Ushulul Iman fie Dhouil Kitab was Sunnah hal. 36

Dan hendaklah kita banyak berdoa dengan do’a berikut :

اللَّـهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّيْ

“Ya Alloh, sesungguhnya Engkau adalah Maha Pemaaf, menyukai maaf maka berilah maaf kepadaku.” HSR. Tirmidzi dishohihkan Syaikh al-Albani rohimahulloh dalam Misykatul Mashobih no. 2091

Dan perlu diwaspadai pula adanya sebahagian orang yang mengaku-ngaku telah meraih keutamaan Lalilatul Qodar. Mereka membuat-buat semacam alamat atau tanda bagi orang yang mendapatkan malam mulia itu seperti pada malam itu badan bergetar hebat bahkan sampai berkeringat setelah itu ia bisa melihat perkara ghoib dan meramal nasib masa depan; atau tiba-tiba ada sebuah bisikan yang mengatakan, ‘Kamu adalah orang beruntung. Kamu telah mendapat kemuliaan malam ini. Silahkan berbuat sesukamu, sungguh kamu telah diampuni.’, dan berbagai kedustaan lain.

Saudaraku, demikian dapat disampaikan. Semoga Alloh Ta’aala membimbing kita semua kepada ucapan dan pebuatan yang mendatangkan keridhoan Alloh dan kecintaan-Nya. Dan mudah-mudahan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang meraih kemuliaan dan keutamaan Lailatul Qodar, malam yang lebih baik dari seribu bulan. Aamien.

Dikutip dari Buletin Dakwah Islam Sabilul Mu'minin No. 34 Tahun Ke V Tgl. 21 Romadhon 1430 H / 11 September 2009 H dengan sedikit penambahan.

banner
Previous Post
Next Post

0 komentar: